Minggu, 17 Mei 2009

Menakar Ketajaman Ekonomi Lewat Pemilu

Jumat, 24/04/2009 10:21 WIB
oleh : Helmy Harahap



Jakarta - Sejak digulirkan gerakan reformasi pemerintah telah melakukan pemilihan umum (pemilu) sebanyak tiga kali. Pemilu tahun 1999, 2004, dan 2009.

Eforia pemilu tahun ini ternyata disambut baik oleh pelaku pasar. Selama satu pekan setelah dilaksanakannya pemilu telah terjadi penguatan signifikan atas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.

Penguatan IHSG di lantai bursa yang menyentuh ke angka 1,637,305 disinyalir oleh masuknya pemodal asing ke pasar modal kita untuk membeli saham-saham unggulan. Kondisi penguatan ekonomi non riil tersebut patut dipertahankan dengan tetap menjaga iklim keamanan saat berlangsungnya pemilu dan pasca pemilu secara kondusif.

Pelaku pasar sendiri tampaknya terus berjaga-jaga agar stabilitas ekonomi makro di negara kita terus memberikan arah yang positif. Hal yang sama juga dirasakan oleh dunia industri.

Gejolak yang mungkin terjadi ketika sebelum pemilu dilaksanakan akan muncul. Terlebih lagi jika kita melihat banyaknya pekerja diberbagai industri ikut terlibat di berbagai wadah kegiatan. Kecemasan-kecemasan yang menghinggap banyak kalangan kenyataannya tidak terjadi karena antusiasme masyarakat dalam menyambut pesta demokrasi lima tahunan mengalami peningkatan.

Pemerintah selaku pembuat kebijakan dalam memformulasikan perhitungan-perhitungan ekonomi tentunya mengarahkan kepada kepentingan yang bersandar kepada pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Gejolak turunnya perekonomian dunia yang timbul di berbagai negara membuat pemerintah lebih memfokuskan pembenahan dari sisi fostur anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang lebih dinamis guna mengantisipasi semakin turunnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Akan halnya yang menjadi antisipasi adalah kesinambungan jalannya fundamental ekonomi nasional apabila krisis keuangan terus berlanjut. Kita mengetahui bahwa dengan muculnya berbagai tekanan ekonomi dunia serta menurunnya beberapa harga komoditas, melemahnya daya permintaan di beberapa negara berdampak terasa kuat sehingga di dalam negeri sendiri keadaan tersebut membuat APBN mengalami perubahan dalam hal defisit anggaran.

Semangat yang menjadi tumpuan pemerintah dalam mempertahankan angka pertumbuhan nasional masih bertumpu kepada sektor-sektor yang terkait dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya konsumtif di samping sumber daya alam yang mesti dikelola dengan baik guna mempertahankan keberadaan pangsa pasar untuk komoditas kita yang bisa diekspor.

Melihat keberhasilan dalam mengawal dan menjaga keamanan sepanjang pelaksanaan pemilu menghasilkan dampak positif yang kuat pengaruhnya bagi kemajuan ekonomi kita. Melihat kondisi negara-negara tetangga yang mengalami banyak penurunan pertumbuhan ekonomi dan juga stabilitas politik yang tidak kondusif menghasilkan suatu siklus ekonomi yang baik untuk kita dengan tertariknya asing menanamkan kembali dana mereka ke dalam negeri dengan bertransaksi di pasar modal.

Meskipun perekonomian kita ikut terimbas krisis keuangan namun secara umum pertumbuhan ekonomi relatif masih dalam kisaran yang bagus yakni sebesar 4,3% sepanjang kwartal I. Ini terasa sangat membantu memulihkan kepercayaan asing yang ingin kembali ke Indonesia.

Pesta demokrasi dengan ongkos yang sangat besar sejatinya bisa memberi manfaat positif untuk semua kalangan. Perekonomian nasional harus dapat merasakan manfaat kuat dari berlangsung pesta demokrasi 9 April lalu. Sebagai pelaku pasar yang merasakan langsung keberhasilan pemilu legislatif mengelu-elukan berlangsungnya pemilihan presiden sama suksesnya dengan pemilu legislatif.

Selama sepekan telah terjadi penguatan yang tajam atas pergerakan IHSG dan mata uang Rupiah. Penguatan ini menunjukkan kepada investor asing bahwa stabilitasi negara kita sangat aman dan tentu saja menjanjikan untuk pengembangan investasi mereka.

Tidak ada komentar:

Koalisi Putaran II : JK - WIN & Mega-Pro

JK-Win dan Mega-Bowo Gabung di Putaran II
(Dari kiri - kanan) Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla, dan Ketua Pembina Partai Gerindra Prabowo Subiakto memberikan keterangan bersama di Kantor DPP Partai Hanura, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (1/5). Sebanyak 11 partai melakukan penandatangan kesepakatan koalisi dalam parlemen untuk periode 2009-2014.

Sabtu, 16 Mei 2009 | 10:25 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com —

Calon wakil presiden dari Partai Hanura Wiranto menegaskan, pada putaran kedua pilpres nanti koalisi besar akan bergabung sehingga siapa pun yang kalah, baik pasangan Jusuf Kalla-Wiranto atau pasangan Megawati- Prabowo, akan saling mendukung dan melengkapi.

Hal itu diungkapkan Wiranto sebelum dimulainya acara Silaturahmi Tim Kampanye Nasional Pasangan Jusuf Kalla-Wiranto di sebuah hotel di Jakarta, Sabtu (16/5) pagi ini.

"Memang dalam koalisi besar disepakati pada putaran pertama akan ada dua pasangan dari koalisi besar. Nanti pada putaran kedua, jika salah atu pasangan itu kalah, pasangan yang kalah itu akan menggabungkan diri dengan pasangan capres-cawapres yang menang dari koalisi besar," ujar Wiranto.

Menurut Wiranto, meskipun saat ini ada tiga pasangan yang maju ke pertarungan pilpres, yaitu pasangan Jusuf Kalla Wiranto (JK-Win), Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono (SBY Berbudi), dan Megawati- Prabowo (Mega-Bowo), pasangan JK-Win dan Mega-Bowo akan saling mendukung dan berkomunikasi.

Tamu Blogs

Tentang Saya

Foto saya
Kalodran - Serang, BANTEN
Blog ini hanya berisi rekaman artikel dari berbagai sumber...dan yang paling penting Blog ini bersifat terbuka untuk semua golongan, teramasuk golongan JIN...

bekerja untuk beribadah