Sabtu, 21 Februari 2009

Membangun Citra caleg

Achmad Rozi El Eroy[1]

Mengadapi pemilihan umum (Pemilu) tahun 2009, seluruh kekuatan dan strategi Caleg partai politik, baik yang lolos electoral threshold maupun yang tidak lolos, serta yang baru terbentuk sekalipun akan berjuang secara maksimal agar dapat memenangkan pemilu secara terhormat dan menjadi Anggota Legislatif. Dalam upaya memenangkan pemilu 2009, seluruh kekuatan (strength) Caleg partai politik akan dicurahkan secara maksimal, baik sumberdaya intelektual, financial, program, strategi maupun teknologi yang dimiliki. Sebaliknya kelemahan (weakness) yang dimiliki akan diperbaiki, perbaharui bahkan yang paling ekstrim dihilangkan. Dan yang menjadi tantangan adalah bagaimana peluang (opportunity) dan ancaman (treaty) yang ada dapat dikelola menjadi sebuah kekuatan.

Paling tidak terdapat dua faktor yang harus dilakukan untuk memenangkan sebuah peperangan (baca: pemilu legislatif), dan harus dipersiapkan oleh Caleg, yaitu merevitalisasi fungsi-fungsi Manajemen Pencitraan dan Manajemen Kampanye.

Membangun citra Caleg yang positip dimata Masyarakat merupakan tugas dan tanggung jawab semua Caleg untuk mengaktualisasikannya secara berkesinambungan dan terus menerus. Mengapa? Karena semakin positif citra seorang Caleg , maka semakin menguntungkan, dan begitu sebaliknya. Kalau kita melihat secara obyektif, bahwa untuk membangun sebuah citra Caleg yang positif dimata masyarakat, diperlukan alat (tools) yang efektif dan efisien, sehingga pencitraan yang akan dilakukan dapat tepat sasaran sesuai dengan yang diharapkan. Disamping itu, diperlukan manajemen yang cerdas dalam pengelolaan citra Caleg , atau dalam kontek ini adalah diperlukannya manajemen pencitraan.

Manajemen Pencitraan

Dalam Manajemen Pencitraan terdapat enam tools kritis yang harus diperhatikan oleh segenap Caleg, yaitu Publication, Event, News, Community, Identity dan Lobby, atau disingkat PENCIL. Enam alat tersebut harus secara integrated diimplementasikan oleh Caleg. Sukses tidaknya seorang Caleg dalam persaingan Pemilihan legislatif tahun 2009 yang akan dating, sedikit banyak akan dipengaruhi oleh kemampuan Caleg dalam membangun Citra yang baik dimata masyarakat.

Pertama, Publication, yaitu terkait dengan tugas Caleg dalam upaya mempublikasikan, mengkomunikasikan, mempromosikan dan mensosialisasikan visi-misi Caleg , ideology, platform, program kerja, kinerja Caleg, dan seterusnya yang harus dilakukan secara terus menurus kepada masyarakat. Kedua, Event, ini terkait dengan tugas Caleg /kandidat dalam merancang, mendisain sebuah kegiatan yang dapat mempengaruhi individu pemilih atau kelompok, tentunya event yang dibuat harus menyentuh pada aspek dasar yang menjadi kebutuhan konsituen secara khusus. Misalnya, Caleg dapat membuat sebuah event bakti social; gerak jalan santai, perlombaan olahraga dan lain sebagainya.

Ketiga News, yaitu terkait dengan kemampuan Caleg dalam menyusun informasi dan berita-berita yang akan disampaikan kepada publik, dan sejauhmana kemampuan Caleg berhubungan dengan Media Massa, elektronik dan lainnya sebagai partner kerja yang efektif. Ingat sekecil apapun berita yang kita miliki, kalau ditingkat pengelolaan nya sangat baik maka tidak menutup kemungkinan berita tersebut akan menjadi baik dan mampu meningkatkan citra positif Caleg dimata publik. Keempat Community, yaitu sejauhmana Caleg mampu membidik sasaran masyarakat/pemilih secara tepat melalui kegiatan segmentasi, targeting dan positioning (STP) yang tepat. Harus di ingat bahwa secara normatif, tidak ada satupun Caleg politik yang memiliki kekuatan secara merata disemua lini, pasti ada kelemahan/keterbatasan yang dimilikinya. Dan untuk mengantisipasinya adalah dengan cara merumuskan aspek STP secara cerdas dan efektif.

Kelima, Identity yaitu bagaimana kemampuan menciptakan sebuah kesan yang mendalam dari identitas yang positif, baik untuk lingkungan internal maupun eksternal. Penciptaan kesan positif dari identitas ini terkait langsung dengan brand equity dari Caleg, perilaku positif yang ditampilkan oleh caleg, komunikasi aktif caleg dan konsituen, perhatian Caleg dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh rakyat, dan seterusnya. Dalam konteks ini, aspek positioning Caleg sangat menentukan dalam membentuk brand image yang kuat dimata masyarakat. Dan Keenam adalah Lobby, Lobby merupakan bentuk komunikasi langsung dan tidak langsung yang dilakukan oleh Caleg disemua tingkatan untuk meyakinkan dan mempengaruhi persepsi publik (stakeholder) terhadap citra Caleg.

Manajemen Kampanye

Kampanye politik merupakan suatu usaha yang terorganisir untuk dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan dalam suatu kelompok, disamping itu juga merupakan bagian dari promosi yang berkaitan dengan aktifitas politik dalam usaha menyebarkan informasi kepada seluruh anggota dan para simpatisan. Dalam manajemen Kampanye beberapa keputusan kritis yang harus dipertimbangkan adalah; bagimana menetapkan tujuan kampanye, anggaran kampanye, pesan kampanye, media kampanye, Dan pengukuran efektifitas kampanye. Keputusan tersebut akan menentukan efektifitas dari program kampanye yang akan dilakukan oleh Caleg.

Bagi seorang Caleg yang relatif masih baru, kampanye harus selalu dilakukan oleh setiap waktu. Sebagai agent kampanye, Caleg dapat memberdayakan kader-kader dan atau tim sukses yang ada secara terorgainisir melalui pelatihan pemasaran politik yang uptodate. Tugas Caleg secara lebih praktis adalah menyusun dan merancang manajemen kampanye secara cerdas, tepat sasaran dan efisien. Banyak kampaye dilakukan oleh Caleg, tetapi sangat tidak efisien. Mengapa? Karena manajemen kampanye yang mereka lakukan tidak didasarkan pada keputusan-keputusan kritis diatas, sebaliknya mereka melakukan kampanye dengan keputusan yang sporadis dan cenderung tidak termanajemen dengan baik.

Inti dari tujuan kampanye, sebagaimana yang kita pahami adalah pertama; menginformasikan (informative) pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada publik secara baik dan benar. Kedua; mengingatkan (remainder), kepada publik akan pesan-pesan atau produk politik yang sudah kita sampaikan dan ketiga; membujuk ( persuasive) masyarakat agar mau menerima pesan-pesan yang kita sampaikan. Hal lain yang juga harus diperhatikan dalam msnajememen kampanye adalah terkait dengan anggaran kampanye. Secara normatif, anggaran merupakan variabel yang selalu dianggap krusial dalam hal kampanye. Manajemen anggaran kampanye sangat menentukan dalam mendukung sukses tidaknya kampanye dilakukan oleh seorang caleg, dan yang terakhir adalah pemilihan media kampanye. Media yang dipilih oleh seorang caleg akan menentukan tingkat penerimaan pesan yang ingin disampaikan kepada publik. Disinilah point penting dari efektifitas kampanye yang akan dilakukan oleh seorang caleg dalam memasarkan program-program politiknya kepada masyarakat.

Akhirnya dari dua faktor diatas, yaitu manajemen pencitraan dan manajemen kampanye tersebut, keputusan akhirnya semua kembali kepada bagaimana seorang caleg dalam menggunakan dua pendekatan tersebut dalam memenangkan pemilu legislative tahun 2009 yang akan datang. Ketepatan seorang Caleg dalam memilih pendekatan tersebut secara efektif, dimungkinkan menjadi entry point bagi kerja-kerja selanjutnya. Namun dari semuanya itu, yang paling penting adalah bagaimana setiap Caleg memberikan sebuah kerja-kerja yang kongkrit bagi masyarakat, tidak hanya sekedar jargon atau slogan. Ingat masyarakat sekarang sudah sangat cerdas dalam melihat dam mendengar apa yang dilakukan oleh Caleg. Wallahu’alam Bishowaf.



[1] Dirwktur Eksekutif The Sultan Center (TSC), Tulisan ini sudah dimuat dalam Baraya Post, 1 Nopember 2008

Tidak ada komentar:

Koalisi Putaran II : JK - WIN & Mega-Pro

JK-Win dan Mega-Bowo Gabung di Putaran II
(Dari kiri - kanan) Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla, dan Ketua Pembina Partai Gerindra Prabowo Subiakto memberikan keterangan bersama di Kantor DPP Partai Hanura, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (1/5). Sebanyak 11 partai melakukan penandatangan kesepakatan koalisi dalam parlemen untuk periode 2009-2014.

Sabtu, 16 Mei 2009 | 10:25 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com —

Calon wakil presiden dari Partai Hanura Wiranto menegaskan, pada putaran kedua pilpres nanti koalisi besar akan bergabung sehingga siapa pun yang kalah, baik pasangan Jusuf Kalla-Wiranto atau pasangan Megawati- Prabowo, akan saling mendukung dan melengkapi.

Hal itu diungkapkan Wiranto sebelum dimulainya acara Silaturahmi Tim Kampanye Nasional Pasangan Jusuf Kalla-Wiranto di sebuah hotel di Jakarta, Sabtu (16/5) pagi ini.

"Memang dalam koalisi besar disepakati pada putaran pertama akan ada dua pasangan dari koalisi besar. Nanti pada putaran kedua, jika salah atu pasangan itu kalah, pasangan yang kalah itu akan menggabungkan diri dengan pasangan capres-cawapres yang menang dari koalisi besar," ujar Wiranto.

Menurut Wiranto, meskipun saat ini ada tiga pasangan yang maju ke pertarungan pilpres, yaitu pasangan Jusuf Kalla Wiranto (JK-Win), Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono (SBY Berbudi), dan Megawati- Prabowo (Mega-Bowo), pasangan JK-Win dan Mega-Bowo akan saling mendukung dan berkomunikasi.

Tamu Blogs

Tentang Saya

Foto saya
Kalodran - Serang, BANTEN
Blog ini hanya berisi rekaman artikel dari berbagai sumber...dan yang paling penting Blog ini bersifat terbuka untuk semua golongan, teramasuk golongan JIN...

bekerja untuk beribadah