Oleh: Ridwansyah
( Wakil Ketua Fraksi Demokrat –DPRD Prov. Banten)
Momentum Hari Raya Idul Adha (Hari Raya Kurban) merupakan pembelajaran pengorbanan dan ujian keimanan terberat sepanjang sejarah peradaban manusia, yang diperankan oleh Nabi Ibrahim, AS. dan Nabi Ismail, AS. sebagaimana disinyalir dalam firman Allah, SWT, “Sesungguhnya ini merupakan uji coba yang nyata” (QS. Ash-Shafat: 106). Dalam lanjutan kisah pengorbanan tersebut, atas kekuasaan dan kehendak Allah, SWT maka Nabi Ismail digantikan dengan seekor domba besar dan sangat indah, yang dahulu dikorbankan oleh Habil (putra Nabi Adam, AS), sebagaimana firman Allah, SWT, “Kami tebus anaknya itu dengan sembelihan besar (seekor domba/kibas)”. (QS. Ash-Shafat:107).
Ketaatan Nabi Ibrahim, AS, serta keikhlasan dan kesabaran Nabi Ismail, AS, dalam menjunjung tinggi perintah Allah, SWT mengundang kekaguman para malaikat, yang segera menyerukan kalimat takbir, “Allahu akbar, Allahu akbar”, dan disambut Nabi Ibrahim dengan kalimat tahlil, “Laa ilaha illallahu Allahu akbar”. Disusul seruan Nabi Ismail dengan ucapan tahmid, “Allahu akbar walillah ilhamd”. Rangkaian kalimat suci tersebut diabadikan hingga sekarang. Rangkaian kalimat yang mulia ini menghiasi ratusan juta bibir umat Islam saat merayakan Idul Adha. Agama mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah (QS Al-An’am, 6:162-163). Tak terkecuali ibadah haji dan ibadah Qurban yang akan kita laksanakan pada tanggal 10 Zulhijjah besok. Karena hanya dengan niat yang terikhlaslah, akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhalsan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah (QS Al-Bayyinah, 98:5)
Keikhlasan dan Kepedulian Sosial
Dalam kaitan dengan ibadah qurban, Allah menegaskan bahwa daging hewan yang diqurbankan itu tidak akan sampai kepada-Nya hanyalah ketaqwaan pelaksana qurban itu (QS Al-Haj, 22:37). Jadi Allah tidak mengharapkan daging dan darah hewan qurban itu, tetapi mental ketaqwaan ini tidak akan tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas. Ibadah qurban mempunyai hikmah untuk membersihkan hati agar menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya iman dan taqwa. Dengan demikian, dimensi keikhlasan sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan manusia, agar manusia mengorientasikan kehidupannya semata-mata untuk mencapai ridha Allah SWT. Dengan ikhlas beramal, berarti seseorang membebaskan dirinya dari segala bentuk rasa pamrih, agar amal yang diperbuat tidak bernilai semu dan bersifat palsu. Dengan keikhlasan, seseorang dapat mewujudkan amal sejati.
Kesejatian setiap amal diukur dari sikap keikhlasan yang melandasinya. Dan kesediaan berqurban yang dilandasi rasa keikhlasan semata-mata, dapat mengurangi atau mengekang sifat keserakahan dan ketamakan manusia untuk berlaku serakah dan tamak, namun kecenderungan itu dapat dieliminir dengan membangkitkan kesadarannya agar bersedia berqurban untuk sesamanya.
Ibadah kurban dan kepedulian sosial dalam konteks kekinian, dapat dimanifestasikan dengan memberikan kurban pada daerah yang terkena bencana atau daerah yang penduduknya secara sosial ekonomi sangat membutuhkan. Sebagaimana yang sekarang telah banyak dilakukan oleh para penyelenggara atau penitia pelaksana kurban dengan memberikan kesempatan kepada mereka yang mampu untuk berkurban dengan berbagai macam pilihan harga atau bahkan dengan pilihan daerah sebaran pemberian daging kurban.
Sebagaimana telah banyak dibahas oleh para ulama fiqh, bahwa daging kurban dapat dibawa ke daerah (negara) lain, maka pelaksanaan kurban seperti ini merupakan suatu hal yang tidak melanggar syariah, tetapi sebaliknya merupakan syiar da’wah Islam dan upaya yang mencerminkan rasa ukhuwah islamiyah (persaudaraan islam) yang tinggi. Sebaran daerah bencana dan daerah yang membutuhkan di Indonesia sangat banyak. Sehingga pelaksanaan pemberian kurban pada daerah bencana memerlukan cara kerja dan manajemen moderen yang ditunjang dengan profesionalitas para pelaksananya
Menebar Hikmah Berqurban
Kesediaan berqurban mencerminkan adanya pengakuan akan hak-hak orang lain, yang seterusnya dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang tinggi. Peristiwa besar dan Agung tersebut tentunya mengandung banyak hikmah dan pelajaran yang sangat berharga bagi seluruh umat manusia untuk dipahami dan diteladani dalam menjalankan kehidupan dialam semesta ini. Yakni, pertama, hendaknya hanya kepada Allah segenap cinta dicurahkan, sebab rahmat dan nikmat-Nya kita terima setiap saat, tak terhitung nilai dan kuantitasnya meski menggunakan air laut sebagai tintanya dan seluruh ranting pepohonan sebagai penanya. Niscaya akan kering seluruh lautan dan habis semua pepohonan, sedangkan nikmat Allah masih terlalu banyak yang belum dapat dituliskan.
Hal tersebut sebagaimana difirmankan Allah dalam Al Quran: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” (QS. Al-Kautsar : 1-2). Ibadah kurban merupakan perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat egois, sikap mementingkan diri sendiri, rakus dan serakah, yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah, diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kesetiakawanan sosial. Teladan paling mulia tentang kecintaan kepada Allah sebagaimana ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dengan kesediaan menyembelih putra kesayangannya.
Kedua, selayaknya hanya kepada Allah dipersembahkan segala puja dan puji. Perintah berkurban bagi mereka yang diberi kelebihan rezeki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin dan dhuafa mengandung pesan penting ajaran Islam bahwa “Anda bisa dekat dengan Allah hanya ketika Anda bisa mendekati dan menolong saudara-saudara kita yang serba kekurangan”, sehingga terbangun ikatan solidaritas sosial dan semangat tolong-menolong antaranggota masyarakat. Sikap tersebut dapat mengurangi kesenjangan sosial dan menjaga suasana kehidupan harmonis di antara sesama warga.
Menyembelih hewan kurban bukanlah media untuk mendapatkan pujian atas pengurbanan yang telah dilakukan, apalagi mengharap agar dianggap sebagai orang yang dermawan. Sungguh ironis. Hakekatnya hanya Allah, Dzat yang pantas menerima pujian karena kebesaran dan keagungan-Nya, yang telah menciptakan seluruh makhluk di alam semesta dan seisinya, mematikan yang hidup, lalu menghidupkan yang mati, menganugerahkan kepintaran kepada mereka yang sebelumnya tak mengerti, memberikan kekuasaan kepada mereka yang sebelumnya sangat lemah.
Ketiga, hanya kepada Allah tempat berserah diri atas segala amal ibadah yang didirikan siang dan malam. Dzikir yang dilafadzkan pagi dan petang didasari dengan niat ikhlas tanpa mengharapkan pujian dari makhluk-Nya adalah wujud pengabdian hamba kepada Rabb-nya. Bukankah setiap hari kita berikrar dalam doa iftitah setiap menunaikan ibadah shalat, “Sesungguhnya shalatku dan semua ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, SWT, Tuhan semesta alam.”
Akhirnya masih banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari ibadah kurban. Melalui ibadah kurban, nurani manusia diasah. Kerakusan manusia digugat, bahkan segala bentuk ketidakadilan sosial digugat. Demikianlah relevansinya umat Islam untuk memelihara nyala api ibadah kurban dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Wallahuwalam Bishowaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar