Minggu, 29 Maret 2009

Saatnya Membina Kader

oleh : Achmad Rozi El Eroy
(Wakil ketua DPC Partai Demokrat Kota Serang)


Cintai apa yang dimiliki,
Miliki apa yang dicintai ( Andre Wongso)

Sebagaimana yang pernah saya uraikan didalam tulisan sebelumnya mengenai pentingnya membangun visi perkaderan di Partai Demokrat, maka pada tingkat selanjutnya yang lebih penting adalah bagaimana menindaklanjuti (follow up) dari proses perkaderan yang telah dilakukan. Bekutat pada tataran proses perkaderan saja tidak akan cukup untuk menjadikan kader Partai Demokrat dapat berkontribusi bagi partai dan masyarakat, harus dilanjutkan dengan aktifitas-aktifitas pasca perkaderan yang sistematis dan terorganisir secara terus menerus.
Seperti yang pernah penulis alami, sebagian besar organisasi baik yang berbasis kemasyarakatan (ormas), kepemudaan (okp) ataupun kemahasiswaan sekalipun khususnya diadalam aktifitas perkaderan, yang paling lemah adalah pada aspek tindak lanjut dari proses perkaderan itu sendiri. Media yang terbatas atau bahkan tidak adanya media untuk aktualisasi potensi kader di internal organisasinya, membuat para kader yang aktif secara mandiri mencari media-media yang ada diluar organisasi induknya, dan mereka berkembang dengan sangat luarbiasa. Sementara bagi kader yang tidak aktif atau tidak mandiri, dengan sendirinya potensi yang dimiliki tidak teraktualisasikan dan akhirnya terpendam.
Berangkat dari kenyataan tersebut, sebagai bahan autokritik bagi para pengurus dan aktifis Partai Demokrat khususnya, seyogyanya mempertimbangkan untuk membuka dan mengembangkan media pengembangan kader disemua tingkatan secara sistematis dan terorganisir. Dan oleh karena itu, sebagai sebuah wacana dan gagasan yang sifatnya subyektif, penulis dalam kesempatan ini mencoba menterjemahkan kebutuhan kader dalam rangka pembinaan dan pengembangan perkaderan sebagai berikut;

Mendorong munculnya kader militan
Salah satu tujuan dilaksanakannya proses perkaderan disetiap organisasi, baik itu organisasi politik (partai) maupun organisasi kemasyarakatan (ormas) ataupun organisasi-organisasi lainnya, salah satu tujuannya adalah terwujudnya kader yang militan dan memiliki daya juang yang tinggi didalam membesarkan organisasinya di masa depan. Partai politik sebagai bagian dari organisasi yang sangat bergantung pada eksistensi anggota atau kadernya, sangat berkepentingan sekali dengan munculnya kader-kader yang militan dan memiliki daya juang yang tinggi, tidak terkecuali Partai Demokrat.
Melahirkan kader-kader militan merupakan usaha yang harus direncanakan secara sistmatis, terorganisir dan terukur. Kader militan tidak lahir secara instan atau direkayasa sedemikian rupa, tetapi kader militan lahir dan muncul dari sebuah proses perkaderan yang secara konsisten telah dijalankan oleh partai. Dan proses perkaderan yang ada, secara ideal harus mampu melahirkan kader-kader militan tersebut secara berkelanjutan. Pengertian kader militan, harus secara komperhensif dirumuskan dalam sebuah aksi dan metodologi perkaderan, muatan dan kapasitas seperti apa yang harus dimunculkan dalam pembentukan kader militan tersebut merupakan tugas yang tidak sederhana. Ciri-ciri yang melekat dari sosok figur kader militan adalah ia memiliki visi yang kokoh, memiliki kemampuan didalam mengorganisir, mengarahkan dan mengerakkan sumberdaya organisasi lainnya secara efektif dan efisien kearah pencapaian tujuan dan cita-cita mulia partai. disamping itu, kader militan juga memiliki ciri-ciri yaitu memiliki kemampuan manajerial yang tangguh, seorang kader wajib memahami aspek manajemen didalam melaksanakan setiap fungsi ke kaderannya. Artinya sebuah pengkaderan juga harus mampu melahirkan kader yang memilikimkemampuan manajerial.

Pengembangan Jaringan Struktur
Setelah kader militan dan memiliki daya juang yang tinggi terbentuk, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh Partai Demokrat adalah memfasilitasi ketersediaan kader-kader tersebut pada berbagai jaringan struktur partai yang ada secara proporsional. Dalam kontek ini, seyogyanya Partai Demokrat melakukan pengembangan struktur organisasi yang sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan kader tersebut; misalnya, jika kader membutuhkan media atau sarana beraktifitas yang untuk peningkatan keterampilan dan aktualisasi kemampuan ekonomi, maka partai paling tidak menyediakan struktur tersebut dalam bentuk menyediakan lembaga ekonomi atau apapun namanya.
Penyediaan dan pengembangan struktur menjadi satu kebutuhan bersama, jika partai menginginkan pengembangan kualitas dan kuantitas kader. Dalam kontek kader, sangat mungkin mereka merasa nyaman tidak secara langsung dapat bersentuhan dengan struktur partai, tetapi lebih nyaman dengan struktur lain yang tersedia. Misalnya pada struktur ormas yang secara langsung menjadi underbow partai dan lain sebagainya.

Pengembangan Pola Perkaderan yang lebih Beragam
Hal yang sangat mendasar yang harus diperhatikan oleh Partai Demokrat kedepan adalah mendisain pola perkaderan yang lebih variatif atau beragam, artinya bahwa pola perkaderan tidak an sich difokuskan pada hal-hal yang sifatnya ideologis atau yang sifatnya doktriner. Tetapi juga mengembangkan pola perkaderan yang sifatnya peningkatan kapasitas dan kapabilitas kader itu sendiri sesuai dengan minat dan bakat seorang kader. Perkaderan yang berbasis kewirausahaan misalnya, sangat mungkin dilakukan dan diberikan kepada kader-kader yang memiliki potensi dan bakat dalam bidang kewirausahaan atau bisnis. Perkaderan yang berbasis pada jurnalistik, advokasi, hukum, dan lain sebagainya juga dapat dilakukan atau pola-pola perkaderan lainnya.
Pengurus Partai harus sadari bahwa kader-kader yang dimiliki tentulah tidak berasal dari satu kelompok golongan saja, tetapi juga berasal dri kelompok-kelompok lain, baik dari segi sosial ekonomi, budaya, agama, ras dan suku-suku yang ada. Dan ini membutuhkan sebuah pola perkaderan yang yang variatif sesuai dengan konteks dan lingkungan dimana kader tersebut berasal. Keberagaman telah menjadi kesepakatan bersama dilingkungan Partai Demokrat dan ini harus diaplikasikan dalam wujud yang lebih operasional, dan salah satunya adalah dengan mendisain pola-pola perkaderan.

Pola Perkaderan yang Dinamis dan Kontekstual dengan Realitas
Disamping mendisain pola perkaderan yang lebih variatif, Partai Demokrat juga harus mampu mendisain pola perkaderan yang dinamis dan kontekstual dengan kebutuhan dan realitas keberadaan kader atau konsituen yang ada. Jika Partai Demokrat memiliki basis konsituen dikalangan buruh misalnya, maka sebisa mungkin pola perkaderan diarahkan sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan buruh. Atau jika Partai Demokrat memiliki konsituen dengan basis profesi guru, maka pola pengkaderannya diarahkan juga tidak jauh dengan profesi konsituen dalam hal ini guru/pendidik. Mulai dari sistem, metode, dan mekanismenya diatur sedemikian rupa sesuai dengan realitas yang berkembang ditingkat konsituen.
Selanjutnya tidak cukup dengan itu, pola perkaderan Partai Demokrat juga mesti disesuaikan dengan kondisi lingkungan sosial, ekonomi dan budaya yang berkembang di tingkat konsituen. Jika mungkin, Partai Demokrat tidak terjebak pada aspek kuantitas an sich dalam proses perkaderan, tetapi kualitas dari perkaderan juga harus diperhatikan

Pola perkaderan yang dilakukan secara berjenjang
Perkaderan sebagaimana logika pendidikan dan pelatihan semestinya dilakukan secara bertahap dan berjenjang, artinya ada seperangkat proses-proses sitematis yang harus dilalui dan dilakukan oleh pengurus didalam merancang dan mengimplementasikan perkaderan. Jenjang-jenjang perkaderan tersebut dimaksudkan untuk memilah dan mengindentifikasi kualifikasi kader yang sesuai dengan kebutuhan partai dimasa depan.
Ibarat sebuah pohon, pohon yang baik adalah manakala akarnya kuat menghujam bumi, batangnya tinggi kokoh menjulang dengan dedaunan yang rimbun, dan pohon tersebut selalu mengeluarkan buah disetiap musimnya. Begitu juga dengan kader, ia harus mampu berdiri kokoh ditengah-tengah gelombang kehidupan partai yang dinamis ini dan mampu memberikan manfaat yang sudah seharusnya diberikan kepada partainya atau kepada masyarakatnya secara proporsional sesuai dengan aktifitas-aktifitas yang dilakukannya pasca perkaderan.

Mendorong distribusi dan penyebaran kader
Tugas lain yang harus dilakukan oleh segenap pengurus Partai Demokrat sebagai manifestasi follow up proses perkaderan, adalah mendistribusikan dan menyebarluaskan kader kedalam insititusi-institusi sosial kemasyarakatan yang ada dilingkup terdekat. Distribusi dan penyebaran ini penting dilakukan, sebagai upaya untuk memperluas jaringan dan pengaruh dimasyarakat, khususnya pada konteks partisipasi kader di tingkat institusi tersebut.
Dengan banyaknya kader-kader partai demokrat yang tidak terakomodasi didalam struktur internal partai, maka tugas pimpinan partai untuk mendistribusikan kader-kader terbaiknya pada struktur-struktur eksternal yang ada. Misalnya KNPI, KADIN, Gapensi, dan lain sebagainya sebagai wujud perhatian dan kepedulian partai terhadap kader. Dengan penditribusian kader tersebut, sangat mungkin akan terjadi proses interaksi natara kader partai dengan anggota struktur eksternal tersebut, sehingga tidak juga menutup kemungkinan akan terjadi aktifitas-aktifitas saling bersinergi diantara keduanya. Dan saat ini merupakan saat yang tepat untuk menata dan merumuskan sebuah pola pengembangan dan penyaluran kader pada bidang-bidang kegiatan tersebut.

Keseimbangan Pengembangan Kader Dan Masyarakat
Dari seluruh rangkaian proses perkaderan yang akan dilakukan, semestinya juga harus dipetimbangkan keseimbangan antara pengembangan kader secara internal dengan pengembangan masyarakat secara eksternal. Sudah menjadi tanggung jawab partai secara institusional untuk bertanggung jawab terhadap proses pengembangan masyarakat secara umum. Dan hal tersebut merupakan impelemntasi dari komitmen terhadap bangsa dan negara yang harus diwujudkan secara operasional melalui pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam kontek Partai Demokrat misalnya, cita-cita dan tujuan Partai Demokrat sebagaimana yang termaktub dalam AD/ART Partai Demokrat Pasal 5 ayat 3 bahwa Partai Demokrat berkomitmen untuk melakukan segala usaha dan ikhtiar untuk membangun masyarakat Indonesia baru yang berwawasan nasionalisme, pluralisme dn humanisme.

Mendorong Partisipasi Kader Di Masyarakat
Partai Demokrat memiliki kewajiban moral untuk senantiasa mendorong partisipasi kader didalam setiap proses pembangunan baik kontek nasional, lokal ataupun pembangunan masyarakat secara umum. Keterlibatan kader dalam setiap proses pembangunan mutlak dilakukan, karena hanya dengan itu akan terlihat kontribusi nyata yang dilakukan oleh kader terhadap pembangunan dan secara langsung akan berimplikasi pada pencitraan partai di mata masyarakat semakin baik dan positif. Dan oleh karena partai bertanggung jawab untuk mendorong kearah tejadinya partisipasi tersebut secara struktural maupun moral.
Masyarakat secara umum saat ini masih melihat kader partai pada kontek partisipasi dalam pembangunan dan atau pemberdayaan masyarakat masih lemah, mereka (baca:kader partai) masih berfokus pada kegiatan-kegiatan yang berorientasi politik praktis, yang cenderung kemanfataannya sangat kecil bagi bagi masyarakat. Yang diharapkan partisipasi tersebut nyata berpihak pada persoalan-persoalan kemasyarakatan, baik secara sosial, ekonomi, ataupun pendidikan.
Akhirnya dengan delapan langkah pembinaan kader diatas, diharapkan akan terbina sebuah komunitas kader dan organisasi yang militan dan memiliki sense of belongin yang tinggi terhadap partai/organisasi. ®


Tidak ada komentar:

Koalisi Putaran II : JK - WIN & Mega-Pro

JK-Win dan Mega-Bowo Gabung di Putaran II
(Dari kiri - kanan) Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla, dan Ketua Pembina Partai Gerindra Prabowo Subiakto memberikan keterangan bersama di Kantor DPP Partai Hanura, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (1/5). Sebanyak 11 partai melakukan penandatangan kesepakatan koalisi dalam parlemen untuk periode 2009-2014.

Sabtu, 16 Mei 2009 | 10:25 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com —

Calon wakil presiden dari Partai Hanura Wiranto menegaskan, pada putaran kedua pilpres nanti koalisi besar akan bergabung sehingga siapa pun yang kalah, baik pasangan Jusuf Kalla-Wiranto atau pasangan Megawati- Prabowo, akan saling mendukung dan melengkapi.

Hal itu diungkapkan Wiranto sebelum dimulainya acara Silaturahmi Tim Kampanye Nasional Pasangan Jusuf Kalla-Wiranto di sebuah hotel di Jakarta, Sabtu (16/5) pagi ini.

"Memang dalam koalisi besar disepakati pada putaran pertama akan ada dua pasangan dari koalisi besar. Nanti pada putaran kedua, jika salah atu pasangan itu kalah, pasangan yang kalah itu akan menggabungkan diri dengan pasangan capres-cawapres yang menang dari koalisi besar," ujar Wiranto.

Menurut Wiranto, meskipun saat ini ada tiga pasangan yang maju ke pertarungan pilpres, yaitu pasangan Jusuf Kalla Wiranto (JK-Win), Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono (SBY Berbudi), dan Megawati- Prabowo (Mega-Bowo), pasangan JK-Win dan Mega-Bowo akan saling mendukung dan berkomunikasi.

Tamu Blogs

Tentang Saya

Foto saya
Kalodran - Serang, BANTEN
Blog ini hanya berisi rekaman artikel dari berbagai sumber...dan yang paling penting Blog ini bersifat terbuka untuk semua golongan, teramasuk golongan JIN...

bekerja untuk beribadah