Minggu, 29 Maret 2009

Membangun Visi Perkaderan

oleh: Achmad Rozi El Eroy
( Wakil Ketua DPC Partai Demokrat Kota Serang )

Untuk terus mampu mengemban dan melaksanakan cita-cita dan tujuan besar Partai Demokrat, sebagaimana yang tertuang dalam AD/ART, maka pilihan untuk menjadi partai kader merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bagi seluruh pengurus partai dari tingkat DPP sampai pada tingkat Pengurus Anak Ranting. Mengapa hal ini penting untuk diajukan? ada beberapa alasan strategis yang dapat dijadikan sebagai rasionalisasi dari pernyataan diatas, khususnya pilihan menjadi partai kader. Pertama, dengan pilihan menjadi partai Kader, Partai Demokrat tidak terjebak pada rutinitas kegiatan-kegiatan partai menjelang persiapan Pemilu, Pilpres dan Pilkada saja tetapi lebih luas dari itu yaitu Partai Demokrat juga bertanggung jawab atas terbentuknya sumberdaya manusia (SDM) partai yang tangguh dan unggul sesuai dengan kompetensi kader itu sendiri, sehingga akan lebih optimal dalam menjalankan misi partai ditengah-tengah masyarakat.
Kedua, dengan pilihan menjadi partai kader, dimungkinkan tidak setiap orang/individu dapat seenaknya keluar masuk partai, yang pada akhirnya akan mereduksi nilai idealisme partai itu sendiri. Bayak kita lihat bahwa partai-partai yang saat ini bermunculan, didominasi oleh orang/individu yang secara ideologi dan kepentingan bertolak belakang dengan ideology partai. Maka tak heran kita jumpai didalam sebuah partai sering terjadi konflik; perpecahan, perkelahian bahkan perseteruan diantara para pengurus yang mengakibatkan partai menjadi tidak berkembang. Ketiga, alasan lain yang dapat dipertimbangkan adalah dengan menjadi partai kader, estafeta kepemimpinan akan terus terjaga secara natural. Artinya disetiap tingkatan kepengurusan partai, tidak bisa tidak kepemimpinan harus diserahkan kepada individu-individu yang betul-betul kader Partai Demokrat. Yaitu mereka yang telah dilahirkan melalui proses pendidikan, pelatihan dan pengembangan di arena perkaderan Partai Demokrat.
Dengan demikian ini akan menjamin tetap sterilnya tujuan besar partai dari kepentingan-kepentingan orang yang tidak memahami arah dan perjuangan Partai Demokrat. Dan juga partai akan terhindar dari para kutu loncat/oportunis partai. Sekaligus bahwa dengan perkaderan haruslah merupakan lingkungan bersemainya calon-calon pemimpin masa depan yang mampu menumbuhkan daya kritisisme kader serta semangat idealisme sehingga kader-kader Partai Demokrat senantiasa memiliki kepedulian pada masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Ketiga alasan tersebut akan sangat mudah di capai ketika seluruh pengurus disemua tingkatan memiliki komitmen yang tinggi terhadap visi perkaderan Partai Demokrat.
Untuk mengembangkan visi perkaderan dilingkungan Partai Demokrat, prasyarat yang harus dipenuhi adalah manajemen keanggotaan yang tertata dengan baik, jika hal tersebut sudah siap, maka pada tingkat selanjutnya adalah bagaimana Partai mampu melakukan proses kaderisasi secara konsisten dengan didukung oleh seperangkat system, metode, dan teknologi yang dimiliki. Dalam mengelola kader, Persepsi yang harus dibangun oleh pengurus Partai Demokrat adalah bahwa kaderisasasi merupakan kebutuhan bersama tidak saja untuk kepentingan jangka pendek pemilu dan pilkada, tetapi untuk kepentingan jangka panjang yaitu membesarkan partai menjadi besar dan berkembang. Langkah kongkrit dari Manajemen Perkaderan adalah dengan membentuk sebuah badan otonom yang terpisah dari struktur Partai Demokrat, dimana Badan tersebut memiliki peraturan-peraturan organisasinya sendiri. Artinya biarkan lembaga tersebut (baca: Badan Perkaderan Demokrat) secara mandiri mendisain dan merumuskan arah, tingkatan dan pola perkaderan yang ideal sesuai dengan Visi dan Misi Partai Demokrat.
Disamping itu berikan hak dan wewenang yang luas kepada Badan tersebut untuk mengurus dan mengelola perkaderan Partai Demokrat atau dalam istilah yang lain tempatkan Badan Perkaderan Demokrat hanya bertugas mengkader anggota-anggota Partai di semua tingkatannya, dan lembaga tersebut harus steril dari kepentingan-kepentingan elit politik partai itu sendiri. Yang harus diingat adalah, Lembaga tersebut harus secara nasional terbentuk di setiap DPC Partai Demokrat. Dan untuk tingkat DPP dan DPD berfungsi sebagai Badan Koordinasi yang berfungsi sebagai fasilitator dan supporting atas kebutuhan Lembaga tersebut.
Dalam mengembangkan Partai Demokrat menuju partai Modern dan Maju, langkah-langkah diatas merupakan prasyarat yang harus segera dipenuhi, tidak cukup pada dataran wacana dan rencana, tetapi harus di implementasikan secara nyata di tingkat struktur. Dan untuk mengimplementasikan visi perkaderan secara lebih operasional, menurut penulis dibutuhkan sumberdaya manusia (kader) partai yang betul-betul concen dan memiliki kepeminatan yang tinggi dalam bidang pelatihan, atau dalam bidang perkaderan, sehingga dengan demikian akan terbangun suatu iklim perkaderan yang betul-betul kental. Partai Politik sebagai salah satu pilar Demokrasi, tentunya diharapkan mampu memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap proses demokratisasi yang saat ini sedang berlangsung. Kontribusi tersebut akan lahir dan keluar dari sumberdaya-sumberdaya partai (kader) yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang cukup dan dapat ditunjang dengan aspek integritas, kapabilitas dan kredibilitas yang kokoh.
Akhirnya dengan menyadari berbagai persoalan klasik dan kontemporer yang menyertai proses perkaderan diberbagai organisasi dan atau partai, terdapat lima agenda strategis yang harus ditempuh oleh Partai Demokrat sebagai upaya menumbuhkan kembangkan jatidiri menjadi partai modern yang berbasis pada kekuatan visi perkaderan, yaitu;
1. Proses perkaderan harus diarahkan untuk menghasasilkan kader (output) yang mempunyai integritas pribadi, beriman, ideologis, intelektual dan profesional. Kader juga harus dibekali dengan kemampuan leadership, managerial dan visioner.
2. Proses perkaderan yang dilakukan harus mampu menciptakan lingkungan perkaderan yang mampu menstimulasi nilai-nilai kemanusian, keadilan, kesetaraan, dan demokratisasi secara utuh, sehingga potensi kader mampu mengembangkan antuasime untuk berproses di Partai Demokrat.
3. Proses perkaderan harus dikelola dengan rapih, efektif, dan efisien sehingga manajemen perkaderan yang diterapkan mendukung terhadap kualitas output (kader). Manajemen perkaderan harus mencakup kualitas kurikulum, kualitas instruktur, kualitas sarana dan parasarana, kualitas metode dan kualitas kesejahteraan yang unggul dan tangguh.
4. Follow Up perkaderan harus dirumuskan metodologi aksi secara nyata, karena untuk meningkatkan kualitas output sangat ditentukan oleh perkaderan, baik formal maupun non formal. Perlu juga dirintis pembentukan lembaga-lembaga studi dan atau kajian sebagai buffer (penyangga) organisasi guna meningkatkan kualitas intelektual kader secara kultural.
5. Rekruitmen kader harus ditata Metodologi aksinya, yang mengakomodasi aspek sosialisasi, pengenalan dan implementasi. Dengan metodologi yang rapih, efektif akan mengahasilkan kualitas kader yang unggul.

Dari paparan diatas, setidaknya memberikan gambaran pada kita bahwa saat ini diusianya yang memasuki tujuh tahun, banyak hal yang harus diperbuat untuk mempertegas eksistensi Partai Demokrat sebagai partai Modern dimasa yang akan datang.


Tidak ada komentar:

Koalisi Putaran II : JK - WIN & Mega-Pro

JK-Win dan Mega-Bowo Gabung di Putaran II
(Dari kiri - kanan) Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla, dan Ketua Pembina Partai Gerindra Prabowo Subiakto memberikan keterangan bersama di Kantor DPP Partai Hanura, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (1/5). Sebanyak 11 partai melakukan penandatangan kesepakatan koalisi dalam parlemen untuk periode 2009-2014.

Sabtu, 16 Mei 2009 | 10:25 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com —

Calon wakil presiden dari Partai Hanura Wiranto menegaskan, pada putaran kedua pilpres nanti koalisi besar akan bergabung sehingga siapa pun yang kalah, baik pasangan Jusuf Kalla-Wiranto atau pasangan Megawati- Prabowo, akan saling mendukung dan melengkapi.

Hal itu diungkapkan Wiranto sebelum dimulainya acara Silaturahmi Tim Kampanye Nasional Pasangan Jusuf Kalla-Wiranto di sebuah hotel di Jakarta, Sabtu (16/5) pagi ini.

"Memang dalam koalisi besar disepakati pada putaran pertama akan ada dua pasangan dari koalisi besar. Nanti pada putaran kedua, jika salah atu pasangan itu kalah, pasangan yang kalah itu akan menggabungkan diri dengan pasangan capres-cawapres yang menang dari koalisi besar," ujar Wiranto.

Menurut Wiranto, meskipun saat ini ada tiga pasangan yang maju ke pertarungan pilpres, yaitu pasangan Jusuf Kalla Wiranto (JK-Win), Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono (SBY Berbudi), dan Megawati- Prabowo (Mega-Bowo), pasangan JK-Win dan Mega-Bowo akan saling mendukung dan berkomunikasi.

Tamu Blogs

Tentang Saya

Foto saya
Kalodran - Serang, BANTEN
Blog ini hanya berisi rekaman artikel dari berbagai sumber...dan yang paling penting Blog ini bersifat terbuka untuk semua golongan, teramasuk golongan JIN...

bekerja untuk beribadah