
Oleh; Nurtjahjadi
(sumber; Kompasiana)
Ada tendensi, kecenderungan, bahwa sebagian wanita masa kini memilih untuk hidup sebagai istri kedua. Hal ini bukan saja dilakukan oleh wanita yang kurang mampu secara ekonomi, tetapi juga dilakukan oleh wanita karir. Demikian topik obrolan saya dengan Datuk Nazri Yahya, salah seorang kompasianers di Hotel Empress Sepang.
Setiap hari, rata-rata orang Malaysia mengawini satu wanita dari Sumatera, Indonesia. Kalau sudah jodoh, mau apa lagi, katanya…Kalau sudah melihat bahwa wanita Indonesia itu baik hati, rajin, taat beribadah, mungkin cantik jugalah sedikit hehehe…maka lelaki Malaysia terus meminangnya pergi ke Indonesia, kawin di Indonesia dan jadilah wanita itu sebagai istri keduanya.
Di Malaysia, saat ini wanita yang memilih untuk menjadi istri kedua bukan hanya dari kalangan bawah. Tetapi, banyak wanita karir Malaysia yang memilih untuk jadi istri kedua. Wanita karir, umumnya terlalu sibuk dari mulai dia belajar di universitas, setelah itu bekerja, punya rumah, punya mobil, punya segalanya, maka lelaki pun semakin takut untuk mendekat.
Tambahan lagi, sudah merupakan sifat dari lelaki melayu yang hampir selalu minta dilayani oleh istri. Walaupun istri sibuk bekerja, suami masih menuntut istrinya untuk masak sendiri, mengurus rumah sendiri.
Penat laa kalau cemtu….Capek deh…. kata salah seorang teman saya, sebut saja AS. AS mempunyai teman yang baru menikah, suaminya kerja di Shah Alam, istrinya kerja di Tanjung Malim. Setiap hari teman AS itu harus naik bis ke Tanjung Malim. Tengah hari harus balik dulu ke Shah Alam untuk masak, petang dia balik lagi ke Tanjung Malim dengan bis lagi. Teman saya itu tak bahagia, tampaknya saja dia gembira, tapi saya tahu dia tak hepi, kata AS.
Jadi kamu tak nak kawin kah ? tanya saya kepada AS yang sudah berumur 31 tahun. Tak kisah katanya. Tak penting kawin tu… Lebih baik saya tak kawin, katanya. Terus nanti kalau penat tak ada yang urut, tanya saya lagi… Saya boleh pergi ke Spa, katanya. Diam2… ada yg berminat kepada AS, teman saya juga, istrinya sudah dua, ….saya tanya lkamu mau dijadikan istri ketiganya tuh…. hahaha,… saya tak nak katanya,….Kawin itu ibadah lho, kata saya lagi. Ya tapi saya tak nak penat-penat, layan suami, layan anak, urus rumah, pekerjaan saya sudah banyak laa…
Kembali ke obrolan saya dengan Nazri Yahya, kata datuk yang satu ini, orang lelaki yang taat pada agama, lebih memilih untuk kawin lagi, demi menjaga keimanannya. Lelaki yang sukses, duit banyak, penghasilan stabil, dia ingin dilayani istri dengan lebih baik. Wanita Malaysia, kebanyakan bekerja, sehingga sangat sedikitlah meluangkan waktu untuk suaminya. Suami banyak diurus oleh pembantu rumah yang kebanyakan dari Indonesia. Maka terjadilah perkawinan kedua bagi sang suami. Sementara istri pertama sudah sangat khusyuk dengan pekerjaannya. Ada yang tak peduli lagi dengan perkawinan kedua bagi suaminya.
Artinya dia rela dimadu. Bagaimana dengan anda ? Sudah siapkah, hehehe…
Fenomena itu terjadi di negara Jiran, di Indonesia pastilah tendensi itu juga sudah mulai, tetapi belum saja muncul ke permukaan. Walaupun pada awalnya terjadi kegaduhan, dari yang kecil hingga perang besar, perkawinan kedua, atau kehadiran istri kedua, memang sebuah dilema, bagi (sebagian) lelaki hihihi…
Tetapi ada juga yang hidup rukun-rukun saja. Kalau istri pertama melahirkan, istri kedua membantunya, begitu pula sebaliknya, kalau istri kedua yang melahirkan istri pertamalah yang membantunya. Salah seorang teman saya, ada yang anaknya 9 dari istri pertama dan delapan dari istri kedua, masih fit dan sehat walau umurnya sudah 64 tahun. Shalat lima waktu selalu di mesjid, rambut sudah putih semua, tetapi muka selalu berseri2….setiap hari selalu minum susu kambing dan madu,…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar